Peringatan Titik Kulminasi Matahari

September 24, 2011 at 09:46 Leave a comment

PONTIANAKPeringatan titik kulminasi atau posisi matahari tepat berada pada titik nol derajat garis equator, kemarin (22/9) dihadiri ratusan orang. Tidak hanya dari Pontianak, wisatawan dari beberapa daerah di negeri ini bahkan turis asing hadir. Namun Wali Kota Pontianak Sutarmidji menyadari kondisi kawasan Tugu Khatulistiwa yang kurang represntatif, membuat pengunjung tidak begitu nyaman. “Mudah-mudahan tahun depan sudah kita tata kawasan ini. Bapak ibu jika ke sini lagi tahun depan, kondisinya sudah tidak begini. Akan lebih baik,” kata Sutarmidji di hadapan pengunjung peringatan titik kulminasi.Pemkot Pontianak membuat tiga tenda undangan dan satu tenda utama. Tenda tersebut didirikan melingkar, mengelilingi titik nol derajat yang berada sekitar 200 meter dari Tugu Khatulistiwa. Tidak jauh dari bibir Sungai Kapuas.


Menjelang detik-detik kulminasi yang diperkirakan pada pukul 11.40, tiga meriam karbit dibunyikan. Dentumannya mengejutkan pengunjung, tetapi membuat senang. Ratusan pengunjung lantas bertepuk tangan setelah terperanjat.Tetapi saat deti-detik kulminasi pengunjung di tenda justru kecewa. Puluhan orang mendekati tiang peringatan kulminasi untuk mengabadikan fenomena itu dengan kamera. Peringatan pemandu acara tidak digubris.Sutarmidji melanjutkan, pengunjung pasti banyak bertanya mengapa kawasan titik kulminasi itu tidak ditata. Dia menjelaskan, Pemkot belum dapat menatanya karena status lahan. “Lahan ini milik TNI, makanya dari dulu Pemkot belum dapat memaksimalkan penataannya,” ujarnya.

Namun Pemkot tidak mau terus berkutat pada masalah lahan. Tahun depan akan dianggarkan untuk penataan kawasan tersebut. Karena tanah tersebut juga oleh TNI tidak akan dialihfungsikan selain sebagai kawasan Tugu Khatulistiwa. “Urusan tanah belakangan, kita tata saja dulu. Toh, TNI tidak dapat mengalihfungsikan tanah ini selain untuk tugu. Agar orang menikmati jika berkunjung, tidak seperti saat ini,” ungkapnya.Pelaksana harian Sekda Kalbar, Kartius mengatakan, Pemkot harus lebih mengoptimalkan penataan Tugu Khatulistiwa itu. Selain hanya kulminasi, Pemkot juga mesti memperbanyak even lokal untuk mendatangkan wisatawan. “Harus banyak lagi even, promosi dan peningkatan sumber daya manusia di bidang pariwisata. Kalau untuk tugu sering dibahas masalah lahannya. Sampai sekarang belum juga ada kejelasan. Tapi Pemkot tetap harus menatanya,” katanya.

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik Indonesia (PDS-Patklin) , Lia Gardenia Partakusuma mengatakan, sengaja memboyong 500 anggotanya ke Tugu Khatulistiwa untuk menyaksikan titik kulminasi. “Kebetulan kami ada seminar nasional di Pontianak. Bertepatan dengan kulminasi, jadi sekalian berkunjung ke sini,” katanya.Lia mengaku puas sudah dapat menyaksikan fenomena titik kulminasi walau dengan sarana terbatas. Fenomena ini tidak ada di tempat lain yang berada di tengah kota.Berbeda dengan dokter RSUD Kabupaten Bandung yang juga anggota PDS-Patklin. Dia merasa kecewa karena pengunjung peringatan titik kulminasi tidak tertib. “Kami datang jauh-jauh tapi tidak dapat melihat detik-detik kulminasi. Jelas kecewa dong. Harusnya tidak boleh mendekat agar tidak melindungi yang lain,” ujarnya. Pelaksana harian Sekretaris Daerah Kalbar Kartius menyarankan membangun ikon di Pontianak. Menurutnya, ikon yang bagus untuk kota ini berupa patung kuntilanak. Itu sesuai dengan asal nama Pontianak. “Saya sudah menyarankannya. Buat patung kuntilanak sebagai ikon kota ini,” ungkapnya saat peringatan titik kulminasi di kawasan Tugu Khatulistiwa, kemarin (22/9).

Dia membandingkan dengan kota-kota lain di Kalbar bahkan di dunia. Banyak kota yang memiliki ikon masing-masing sehingga menarik wisatawan. Kartius menilai, jika ada patung kuntilanak kota ini akan mudah diingat. “Saya memang tidak banyak keluar negeri. Paling ke Kuching (Malaysia), di sana seluruh kota ada patung kucing. Jadi menarik karena ikonnya. Padahal apa menariknya binatang kucing itu, biasa saja,” ujarnya.Idenya ini, kata Kartius, juga terinspirasi dengan goresan Sultan Hamid II. Dia mengatakan, Sultan Hamid II pernah menggoreskan gambaran kuntilanak. “Kalau saya tidak salah ya. Ini informasi dari orang museum,” tuturnya.Selain tugu kuntilanak, Kartius juga menyarankan dibuat patung pantak di Kalbar. Patung pantak sebagai ikon masyarakat Dayak. “Pantak juga bisa dibangun sebagai ikon agar menarik wisatawan,” ucapnya.

Keberadaan pantak, kata dia, sangat dijunjung tinggi masyarakat Dayak. Dulu, ketika masyarakat Dayak masih mengayau atau berperang selalu mendatangi pantak minta petunjuk. “Kalau petunjuk pantak bilang berperang, pergilah orang untuk berperang. Dan sebaliknya,” paparnya.Saran itu tidak disetujui Wali Kota Pontianak Sutarmidji. Dia mengatakan, pembuatan patung kuntilanak sebagai ikon kota ini hanya akan menjadi kontroversi. Dia mengatakan, tidak ada yang mengetahui rupa kuntilanak. Beragam versi masing-masing manusia tentang bentuk hantu itu. Apalagi hanya sedikit orang yang mengaku pernah melihatnya. “Nanti bentuknya seperti siapa. Tidak ada yang tahu persis bentuk kuntilanak,” tegasnya.Pun dengan asal kata kuntilanak yang menjadi cikal bakal Pontianak. Menurut Sutarmidji, Pontianak bukan berasal dari kata kuntilanak. Tapi Pontianak artinya ayunan anak. “Bukan dari kuntilanak. Tapi ayunan anak, itu asal kata Pontianak,” jelasnya.

Advertisements

Entry filed under: Pontianak. Tags: , , , .

Lomba Masak Makanan Khas Kalimantan Barat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d bloggers like this: