Wangkang Dibakar, Arwah Diantar

September 5, 2011 at 13:51 Leave a comment

Wangkang, sembayang kubur, pontianak, kalimantan barat, kalbarPontianak – Sembahyang kubur tanggal 15 bulan 7 penanggalan Imlek sudah selesai. Ditandai dengan prosesi bakar wangkang di Pemakaman Yayasan Bhakti Suci (YBS), Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Minggu (14/8).

Lokasi bakar wangkang atau perahu itu dipadati ratusan warga Tionghoa. Sejumlah jurnalis dari berbagai media elektronik dan media cetak hadir mengabadikan momen ini. Bahkan ada wartawan dari Amerika Serikat ikut menyaksikan dan meliput untuk membuat sebuah buku.

Wangkang berukuran panjang dan besar seperti kapal sebenarnya, dan setiap tahun panjangnya bertambah 5 cm. Sebelum acara wangkang dimulai, terlebih dahulu dilaksanakan sembahyang rebut atau Chio Sik Kow (Teociu) dan Chiong Shi Ku.

Berbagai hasil pertanian dikumpulkan di satu lokasi yang dianggap suci untuk selanjutnya direbut oleh warga sekitar, khususnya warga Tionghoa mulai dari anak-anak hingga orang tua.

Menurut Ketua Umum Yayasan Bhakti Suci, The Iu Sia, upacara bakar wangkang sudah berlangsung seratus tahun di Kalbar. Dilaksanakan warga Tionghoa penganut Konghucu sebagai mengakhiri sembahyang kubur tanggal 15 bulan 7 penanggalan imlek. Acara ini juga ditutup dengan sembahyang rebut atau Chio Sik Kow (Teociu) dan Chiong Shi Ku (Kek/Hakka).

Ia menjelaskan, sembahyang rebut ini muasalnya menyambut musim gugur (Chiu Cie) dengan membagikan hasil pertanian seperti buah dan sayur serta daging hewan peliharaan. Membagikannya dengan cara rebutan di areal tertentu seperti halaman kelenteng atau tempat-tempat yang disucikan.

Puncak acaranya, sambung The Iu Sia adalah membakar wangkang atau perahu. Wangkang itu dibuat sedemikian rupa untuk membawa arwah yang selama sembahyang kubur berada di dunia manusia.

“Usai sembahyang bulan 7, arwah harus kembali ke tempat asalnya dengan tenang dan damai. Karena itu umumnya warga Konghucu tidak melakukan kegiatan seperti membuka bisnis baru atau pindah rumah di bulan tujuh, termasuk pernikahan,” katanya.

Dalam wangkang itu, dijelaskan The Iu Sia, dibekali berbagai perlengkapan makan dan minum dan pakaian serta kebutuhan manusia pada umumnya. Ada makanan pokok, buah-buahan, pakaian, hingga uang yang terbuat dari kertas. “Kapal dengan awak dan nakhodanya disiapkan mengantar para arwah. Diharapkan tahun depan akan berkumpul kembali menjalani ritual serupa,” ucapnya.

Menjelang petang, The Iu Sia melanjutkan, wangkang yang sudah ditumpangi para arwah dan segala bekalnya pun dibakar. Asapnya akan membubung ke udara menuju langit, menuju nirwana bersama para arwah. “Dengan demikian warga Konghucu yakin semua kegiatan manusia kembali seperti biasa, aman dan penuh rezeki,” harapnya.

Sementara itu, Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan, mengatakan prosesi tersebut bagian dari agenda yang sudah menasional dan sangat penting untuk membangkitkan semangat warga Tionghoa.

”Kegiatan ini juga merupakan suatu budaya yang diharapkan menjadi perekat dan pemersatu. Apalagi kegiatan ini mendorong peningkatan kunjungan wisata ke Kabupaten Kubu Raya. Kita harapkan kegiatan ini terus berlangsung setiap tahunnya. Kita juga berharap kerja sama yang sudah terjalin baik dengan pemerintah daerah selama ini terjaga,” kata Muda.

Advertisements

Entry filed under: Pontianak. Tags: , , , , , , .

Produksi Padi Meningkat 32 Rumah Terbakar di Gg. Haji Mukdshid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d bloggers like this: