Mencari SInyal Telpon Gadis ini Digilir Sebelum Dibunuh

September 4, 2011 at 14:27 Leave a comment

SINTANG – Tertangkapnya dua tersangaka baru dalam kasus pemerkosaan dan pembunuhan Kuntum, (bukan nama sebenarnya),  di Dusun Cahaya Embun Desa Jelundung Kecamatan Serawai, Sintang awal Juli lalu membuat kronologis perbuatan keji itu semakin jelas.Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Kepolisian Resor Sintang, Ajun Komisaris Donny Sardo Lumbantoruan menjelaskan dari keterangan yang disampaikan para tersangka, pertemuan ketiga orang tersebut berawal dari pesta di kampung selama tiga hari dan ketika pesta usai mereka bertiga masih dalam pengaruh minuman beralkohol.“Waktu itu mereka bertiga menuju belakang gereja yang menjadi tempat satu-satunya yang ada sinyal telepon seluler,” jelasnya.Saat bersamaan lanjut dia, korban juga berada di belakang gereja untuk menelepon dan melihat seorang gadis belia, ketiga orang yang sedang mabuk inipun tidak lagi berpikir panjang, merekapun langsung beraksi.

“Yang pertama menangkap dan membekap korban Edong,” jelasnya.Merasa dilecehkan dan terancam, korban pun langsung meronta dan berusaha melakukan perlawanan, namun ia kalah tenaga hingga akhirnya sebatang kayu yang masih ada pakunya mendarat di punggungnya.“Makanya hasil visum ada menunjukkan bekas luka paku, sepertinya itu adalah paku yang ada di kayu bekas pagar,” imbuhnya. Korbanpun sudah tidak bisa melawan hingga tidak sadarkan diri, kesempatan itu digunakan oleh Edong dan Sumadi untuk memerkosa korban masing-masing dua kali secara bergantian, edong yang pertama.“Giliran Ajan yang terakhir dan ketika itu korban sempat siuman, berusaha meronta namun akhirnya diam setelah Sumadi memukul wajahnya dengan batu,” jelasnya.Diduga ketika itulah korban mengembuskan nafas terakhirnya.

Sebelumnya, dengan sangat percaya diri Ajan di hadapan para wartawan awal Agustus lalu menjelaskan dengan meyakinkan kalau dia sendiri lah pelaku perbuatan keji itu.Bapak dua anak ini mengakui kalau ialah pelaku pemerkosaan sekaligus pembunuhan terhadap kuntum (nama palsu) lantaran ketika itu ia sedang mabuk.
“Waktu itu ada pesta Daro di kampung, pada hari terakhir saya mau pulang, tetapi mereka bilang nanti dulu,” kata Ajan. Hari terakhir acara daro itu pada tanggal 7 Juli dan menurutnya pada hari itu sekitar pukul 10.00 ia memutuskan untuk pulang setelah menyelesaikan pesta bersama teman-temannya.“Waktu mau pulang saya ambil satu kampil arak dan saya jalan sampai ke belakang gereja,” ujarnya.Waktu berjalan, Ajan berada di belakang gereja hingga menjelang sore sendirian dan sekitar pukul 16.00, korban datang untuk menelepon karena di kampung mereka hanya di belakang gereja saja yang ada sinyalnya.
“Saya lihat dia datang mau nelepon, saya pun langsung mendekatinya dan langsung merangkulnya dari belakang,” ujar Ajan.
Tengah ingin menelepon, tiba-tiba ada yang merangkul membuat Kuntum kaget dan berupaya melawan, namun ia kalah tenaga hingga akhirnya Ajan berhasil mendorong bagian belakang kepalanya langsung membentur tanah. Saat itu juga Ajan beraksi melakukan pemerkosaan dari belakang, puas dengan aksi sodominya, tubuh korban pun dibalik dan baju korban bagian depan disobek paksa, aksi perkosaan kembali terjadi tanpa ada yang mengetahui.Tenaga yang tersisa masih dimanfaatkan Kuntum untuk melawan dengan mencakar leher korban, namun Ajan yang sudah kalap apalagi dalam keadaan mabuk berat langsung memukul korban, ia pun mengambil kayu dan kembali memukul menggunakan sebatang kayu bekas pagar yang ada di dekatnya.
“Saya pukul dia dan saya rasa sudah tidak ada nafas lagi lalu saya tinggalkan dia, sayapun pulang ke rumah,” ucapnya.
Namun akhirnya Ajan tidak mampu menanggung beban kesalahan itu sendirian, kepada keluarga yang menjenguknya stelah beberapa hari berada dibalik pengapnya hotel prodeo Polres Sintang, ia mengakui kalau pelakunya bukan hanya dirinya, tetapi ada Edong keponakannya dan rekannya Sumadi yang hingga saat ini masih menyangkal dan mengatakan ketika kejadian ia masih sedang bekerja mencari emas.Ketiganya kini sudah berada di dalam tahanan Mapolres Sintang untuk menjalani proses hukum selanjutnya sebagai buah dari perbuatan keji yang mereka lakukan terhadap korban, seorang anak yang baru berusia 14 tahun yang seharusnya berada dalam perlindungan orang-orang seperti mereka.

Advertisements

Entry filed under: Sintang. Tags: , , , , , .

Korupsi Kantor Pos Sintang Nelayan Desak Bangun SPBN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d bloggers like this: