Perang Meriam Tidak Sedasyat Dulu

September 2, 2011 at 21:31 Leave a comment

MALAM Lebaran di Kota Pontianak merupakan salah satu yang terunik di dunia. Di kota khatulistiwa ini ada tradisi perang meriam karbit yang sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu. Namun, kini kebudayaan yang sarat nilai sejarah ini menghadapi tantangan besar. Ketiadaan bahan baku dan terbatasnya pendanaan menjadi musuh besarnya.Di kampung-kampung sepanjang Sungai Kapuas, Kota Pontianak terpajang meriam-meriam karbit, hasil karya masyarakat sendiri. Ukurannya bermacam-macam, yang pasti lebih besar dari meriam sungguhan. Permainan meriam karbit ini sudah menjadi tradisi dan dimainkan masyarakat tepian Sungai Kapuas setiap menyambut Idulfitri.

Dentuman yang bersahut-sahutan itu mengundang daya tarik masyarakat Pontianak, bahkan wisatawan dari luar Kalbar. Mereka rela berdesak-desakan di tepian sungai Kapuas untuk menyaksikan momen budaya tahunan tersebut. Untuk festival tahun ini ada 50-an kelompok yang ikut meramaikan gawai turun-temurun ini. Jumlah ini. Satu kelompok biasanya terdiri dari lima sampai sembilan meriam. Jika diambil rata-rata satu kelompok punya lima meriam saja, maka total meriam yang akan berdentum saat malam besok adalah 250-an meriam.Namun dentuman meriam karbit tersebut dipastikan tidak sekeras dan seramai Lebaran tahun lalu. Tahun lalu, lebih dari 60 kelompok dengan 300-an meriam ikut andil memeriahkan malam kemenangan Umat Islam setelah sebulan penuh berpuasa. “Kita sekarang kesulitan bahan baku, terutama rotan. Harganya melambung tinggi sekali. Tidak hanya itu sekarang rotan juga langka, susah nyarinya. Makanya banyak kampung yang tidak mengadakan permainan meriam karbit lagi,” ujar Ketua Forum Meriam Karbit dan Budaya Pontianak, Syaiful Azhar.

Meriam sendiri terbuat dari batang kayu bulat silinder yang dibelah dan dibuat semacam rongga dalam. Kemudian dua belahan itu ditangkupkan kembali dengan diikat rotan yang kuat, sehingga bentuknya seperti bambu besar yang berongga dalam. Menurut Syaiful, satu meriam bisa menghabiskan hampir Rp 3 juta untuk bahan bakunya saja.Seksi pendanaan festival meriam karbit, Very Budiman berharap, kedepan, masalah tersebut harus dapat diatasi. “Dari tahun ke tahun masalahnya selalu sama, yaitu soal uang. Sebagian kita dapat bantuan dari Pemprov dan Pemkot dan dari biaya pribad. Masih kurang pihak perusahan swasta yang mau membantu. Padahal ini budaya Kota Pontianak. Permainan meriam ini hanya satu-satunya di dunia yang berkaitan langsung dengan kelahiran kota,” ungkapnya. Konon, tradisi ini sudah ada sejak tahun 1771, ketika Sultan Kadariyah yang pertama Syarif Abdurrahman mulai melakukan perjalanannya menyusuri Sungai Kapuas.

Namun untungnya, tahun ini festival meriam karbit mendapat sokongan dari acara lainnya, yaitu; Senandung Takbir  Kapuas”. Sebuah acara yang digarap oleh kumpulan para pelaku Entertainment Pontianak dengan tujuan untuk memeriahkan malam Idul Fitri dengan nuansai budaya lokal yang kental. Para pelaku entertainment yang menamai dirinya All Entertainer Pontianak ini mecoba menghadirkan sebuah konsep yang berbeda dalam kemasan kemeriahan malam lebaran dengan menyuguhkan Takbir Keliling, live music religi, serta beberapa atraksi seni dan budaya diatas tongkang/pronton yang berjalan menelusuri sungai Kapuas dengan rute pesisir Kapuas Indah – Kampung Belitong kemudian menyebrang ke pesisir Desa Kapur menuju Kampung Tembelan.Selain itu, tongkang yang dirancang khusus dengan panggung dan lighting yang spektakuler  ini juga akan bertahan di pesisir Gang Garuda untuk mengisi kemeriahan pembukaan Festival Meriam Karbit Oleh Walikota Pontianak Sutarmidji dengan menampilkan hiburan seni budaya yg disuguhkan oleh Dewan Kesenian Kota Pontianak.

Tak hanya itu, sungai terpanjang di Indonesia ini juga akan dihiasi dengan kemilau pesta kembang api dari atas tongkang tersebut. Anwar, Project leader dari acara ini juga memaparkan bahwa konsep ini adalah lanjutan dari Senandung Takbir Kapuas yang sudah digelar tahun lalu, namun tahun ini konsep tersebut lebih dimatangkan dengan tampilan yang lebih wah dan ukuran tongkang yang lebih besar yaitu tonkang seberat seribu ton (36 x 12 meter).

Advertisements

Entry filed under: Lainnya.

Pawai Lampion: Ribuan Warga Sambut Antusias, Jalang Singkawang Penuh Warna Pembangunan Jalan di Desa Batu, Sukadana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d bloggers like this: