Membunuh Terpancing Omongan

February 17, 2011 at 18:18 Leave a comment

Penyesalan tak ada gunanya. Bisikan jahat selalu terngiang di telinga pelaku. Isu santet telah merasuki jiwa hingga tega membunuh warga sekampung.

Pontianak. Dua tahun penantian menunggu waktu yang tepat, membuat Abdussalam, 36, selalu direcoki pikiran jahat. Kematian orang tuanya selalu dikaitkan dengan isu dukun santet Asmadi alias Asmat, 56, sebagai penyebabnya.

”Sebenarnya saya sudah hampir melupakan semuanya, tetapi masih banyak warga yang membicarakan kematian ibu saya yang disebabkan dibunuh oleh Asmadi,” ujar Abdussalam di sela-sela rekonstruksi pembunuhan Asmadi, Rabu (16/2) sekitar pukul 10.00 di Jalan Parit H Husin II Ujung.

Pembunuhan Asmadi oleh Abdussalam dengan cara sadis dibantu oleh anaknya, Suryadi, 13 dan tetangganya, Fhadoli, 15. Ditemui Equator di lokasi rekonstruksi, Abdussalam mengaku terus teringat kematian orang tuannya yang meninggal dalam keadaan yang tidak wajar, seluruh tubuhnya bengkak-bengkak.

Menurut dia, ucapan warga sempat tak dihiraukan malah mencoba mengikhlaskan kematian orang tuannya itu. Namun ucapan warga terus menghantui pikirannya seolah-olah Asmadi-lah yang menyantet ibunya.

”Pikiran saya sudah tak tahan untuk membunuh Asmadi. Pada hal saya sudah mencoba melupakannya. Bisikan itu terus datang dan memancing saya untuk menghabisi Asmadi,” tambah Asmadi.

Beberapa hari kemudian, ia semakin terpancing hingga membuatnya gelap mata. ”Pas mendapat kesempatan, pikiran saya langsung gelap dan kepingin secepatnya membunuh Asmadi,” tambah korban.

Abdussalam memang menyesal, tetapi apa gunanya penyesalan yang datangnya selalu terlambat. Asmadi telah dibunuh dengan cara lehernya digorok dan nyaris putus. Kemudian jasadnya dilemparkan ke parit, Sabtu (12/2) sekitar pukul 23.00 sepulangnya korban dari perayaan maulid di rumah salah seorang warga Jalan Parit Bhakti Suci 1 Kuala Dua, Sungai Raya.

Abdussalam, Suryadi dan Fhadoli telah bersekongkol bertindak jahat. Mereka menunggu korban di depan rumahnya dan mencegat korban. Ketiganya berbagi tugas. Fhadoli memegang tangan korban, Suryadi memegang kaki. Sedangkan Abdussalam langsung menggesekkan celurit ke leher korban sebelah kanan.

”Saya tidak tahu harus bagaimana, karena pikiran saya kemarin sangat gelap. Saya sangat menyesal dan tidak bisa tidur setelah membunuhnya, bahkan melibatkan anak saya,” sesal Abdussalam.

Advertisements

Entry filed under: Lainnya. Tags: , , .

Puncak Cap Go Me. Tatung, Naga dan Barongsai Siap Beraksi Pawai Lampion: Ribuan Warga Sambut Antusias, Jalang Singkawang Penuh Warna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d bloggers like this: