Pengusaha Keluhkan Pelabuhan

February 15, 2011 at 11:05 Leave a comment

PONTIANAK – Menyusul kecelakaan kapal di muara pelabuhan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kalimantan Barat, membentuk tim khusus untuk memantau ketersediaan sembako di pasaran. Kemarin, instansi ini melakukan inspeksi ke sejumlah agen kebutuhan pokok di Kota Pontianak. “Kita sudah turunkan tim hari ini dan kemarin. Sampai sekarang, belum ada gangguan terhadap kebutuhan pangan,” kata Kepala Dinas Perindag Kalbar, Soezarsono Soekran. Untuk beras, stok di Bulog menurutnya mencapai delapan ribu ton dan beras miskin sudah tersalurkan. Sementara stok beras swasta terdapat 39 ribu ton.

“Bahan pokok lain juga belum ada masalah,” katanya. Meski demikian, dia berharap upaya mengatasi masalah di alur pelabuhan dapat segera tuntas agar proses transportasi kembali normal. Sedangkan mengenai kelangkaan dan antrean pembelian BBM yang terjadi beberapa hari terakhir, menurutnya itu juga diakibatkan oleh perilaku konsumen yang “booming” membeli BBM. Sebagian warga ragu dan tidak tahu kondisi yang sebenarnya terjadi sehingga panik. Tetapi Pertamina sudah melakukan upaya pengangkutan BBM menggunakan kapal atau tanker kecil sehingga masalah ini diharapkan segera berakhir. “Mudah-mudahan kapal yang karam cepat diangkat dan besok tidak ada masalah lagi,” katanya saat ditemui ketika melakukan inspeksi ke PD Hakisa.

Rendra, pemilik PD Hakisa, agen beras yang berada di Jalan Firdaus juga mengakui, sejauh ini stok beras masih aman. Harga beras pun masih normal. Dampak dari kecelakaan kapal di muara pelabuhan dinilai belum terasa. Namun, jika sampai satu minggu ke depan, masalah ini tidak dapat diatasi, dia memprediksi beras akan menjadi langka atau menjadi mahal. “Agen rata-rata punya stok cuma 150-200 ton saja. Stok hanya cukup maksimal untuk kebutuhan satu bulan. Kadang hanya dua atau tiga minggu. Kalau sampai seminggu lagi kapal tidak bisa masuk, stok pasti akan habis,” ujarnya. Terkait dengan situasi ini, dia juga menyarankan agar pelabuhan alternatif segera dibangun.

Soalnya, meskipun tidak ada insiden kecelakaan kapal, pelayanan di pelabuhan Pontianak dirasakan sudah lamban. Kapal yang datang dari luar pulau harus antre selama sepuluh hari sampai dua minggu untuk bongkar muat. Hal ini menimbulkan biaya tambahan bagi para pengusaha. Di sisi lain, tarif bongkar muat di Pelabuhan Pontianak juga dianggap tinggi. “Mungkin di sini yang termahal di seluruh Indonesia. Kalau pakai container, biayanya Rp450 per kilo. Kalau kita mengangkut beras 200 ton, biayanya mencapai Rp90 juta,” jelas dia. Sementara pelabuhan di Jakarta, biaya yang dikeluarkan hanya Rp300 per kg. Apabila ada pelabuhan alternatif, diharapkan biaya angkut yang dikeluarkan pengusaha dapat ditekan.

Advertisements

Entry filed under: Lainnya. Tags: , , , .

Perampasan Kalung di Adisucipto Gula Malaysia bukan Selundupan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d bloggers like this: