Vihara Bodhisatva Ramai Pengunjung

February 13, 2011 at 16:39 Leave a comment

Vihara Bodhisatva Karaniya Metta, Jalan Sultan Muhammad No 33 Pontianak, menjadi rumah abu, karena saking banyaknya warga Tionghoa yang sembahyang memperingati ulang tahun Dewa Langit.

Vihara yang dibangun pada tahun 1829 itu direhab permanen pada 1906. Vihara tertua di Kota Pontianak itu merupakan gabungan tiga kelenteng. Dua kelenteng sebelumnya terletak di Parit Pekong dan Sheng Hie.

Ketika memasuki vihara tersebut, sebuah gapura sederhana yang didominasi warna merah menyambut setiap pengunjung yang datang. Di depan vihara terdapat tempat dupa atau gaharu yang dibawa oleh raja Khang Hie (1662-1722) pada tahun 1673 masehi. Dinasti Khang Hie merupakan raja kedua.

Dalam Vihara Bodhisatva Karaniya Metta, tampak meja-meja penuh berisi bahan-bahan sembahyang, kemudian dupa dan lilin berwarna merah dengan berbagai ukuran. Terdapat 10 patung dewa dan dewi, termasuk pengikut Hian Tian Siau Ti (Budha).

Penasihat Yayasan Bodhisatva Karaniya Metta, Agung mengatakan, ulang tahun Dewa langit jatuh pada tanggal 9 Januari 2562 (tahun Tionghoa), bertepatan dengan 11 Februari 2011. Ulang tahun Dewa Langit selalu dirayakan. Diharapkan, semoga bumi dan langit bisa bertahan selama-lamanya. Penghuninya diberikan keselamatan dan kedamaian, khususnya masyarakat Kalbar.

Agung yang didampingi, Ketua Pembina Yayasan Bodhisatva Karaniya Metta, Ahok, Ketua Yayasan Gunawan Sarjono, Sekretaris Maryana menjelaskan, setiap ulang tahun Dewa Langit, banyak warga Tionghoa datang ke Vihara Bodhisatva Karaniya Metta melakukan sembahyang. Bahkan bukan hanya dari Kota Pontianak dan sekitarnya, melainkan banyak juga yang dari Jakarta, Hongkong, Taiwan, dan Singapura.

“Kami pengurus Yayasan Bodhisatva Karaniya Metta menyediakan bahan-bahan sembahyang, demi keselamatan masyarakat Kalbar,” ujar Mariyana kepada equator di vihara yang terletak di Jalan Sultan Muhammad No 33 Pontianak.

Mariyana menjelaskan, bahan sembahyang untuk Dewa Langit antara lain 999 buah plus 9 buah emas sembahyang sebagai simbol bumi dan langit selama-lamanya. Lampu Dewa Langit juga 999 buah plus 9 buah kertas Wangkim, 36 ikat bunga teratai, 12 buah tengci dan 12 ikat uang. Artinya 1 tahun 12 bulan buah panjang umur, 1 piring jeruk (limau) 10 buah kue keranjang, 12 buah Gula Mua Thi Che, sepiring gula the liau, lima buah kakue atau kue rezeki, lima jenis buah-buahan, dan 5 jenis sayur vegetarian, kong atau tempat uang, lima pasang mie panjang umur, piring gula pasir, piring bunga 1 pot, lampu nanas atau wang lai 5 buah yang artinya rezeki datang. ”Semua bahan tersebut telah kami sediakan untuk sembahyang memperingati hari ulang tahun Dewa Langit,” papar Mariyana.

Advertisements

Entry filed under: Lainnya.

Belasan Rumah Tertimbun Bangunan Runtuh Bongkar Muatan, KMRahmatia Digeser dari Alur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d bloggers like this: