Awalnya jadi BahanEjekan, Kini MenuaiSuksesKisah Pengusaha Pencucian Helmet

February 9, 2011 at 13:04 1 comment

Bertambahnya
jumlah
sepeda
motor
akan
selalu
berbanding
lurus
dengan
meningkatnya
penjualan
helmet
standar. Aturan mewajibkan pengendara motor
menggunakannya. Saat ini helmet tak hanya
kebutuhan, tapi sudah memasuki ranah gengsi
dan citra diri.
ARISTONO, Pontianak
LAYAKNYA pakaian, helmet yang dipakai setiap
hari tidak luput dari debu atau kotoran lainnya.
Apalagi jika pelindung kepala itu dikenakan setiap
hari. Bila bagian dalam helmet kotor, bakal
mengancam kesehatan rambut dan kulit kepala si
pemakainya. Belum lagi aromanya yang sungguh
tak sedap.Meskipun potensi ekonominya begitu
besar, pusat-pusat pencucian helmet di Pontianak
ternyata masih sedikit. Padahal di kota-kota lain
telah ramai berdiri gerai-gerai besar. Bahkan
loundry pertama baru ada dua tahun yang lalu.
Adalah Chong Bun Mui, 28 tahun yang
mengklaim dirinya sebagai pemegang rekor abadi
itu.
Bertempat di keramaian Jalan Sungai Raya Dalam,
usaha yang dijalankan Amui termasuk berhasil.
Dalam satu hari, puluhan orang datang untuk
memakai keahliannya. Disebut keahlian sebab
mencuci helmet memerlukan teknik yang tinggi.
Salah sedikit, akan mengakibatkan kerusakan
permanen pada helmet.
“ Harus hati-hati wo… itu kan dilepas semua (kaca
dan busa). Takut rusak. Busanya juga kalau salah-
salah (proses cuci) bisa jadi tipis, ” kata Amui.
Karena kepandaian itu, ruko miliknya ramai
pengunjung. Dalam satu hari ia bisa
mendapatkan konsumen minimal sepuluh orang.
Amui sibuk saat menjelang malam minggu atau
hari-hari besar, lebih 30 pengunjung pasti ia
dapatkan. Alasan salah seorang pengunjung
Terry Listiadi, (24 tahun) “Cuaca kan lagi tak
bagus, terus kemarin kena hujan, jadi bau
dalamnya. Makanya bawa ke sini.”Hasilnya cukup
menggiurkan. Pasalnya, untuk mencuci satu
buah helmet Amui mematok harga Rp 10 ribu.
“Satu bulan, kalau kita hitung paling kecil bisa
dapat tiga juta (rupiah). Itu sudah bersih,” ungkap
ayah satu anak.
Bahkan jika mau ia bisa mendapat lebih dari itu.
“Kadang terlalu ramai, saya tidak terima (tolak).
Takut dia lama tunggu. Biasa juga kalau
kebanyakan jadi bingung, sering tertukar-tukar
pasang kacanya (helmet),” ujar Amui. Saat
Pontianak Post datang ada seorang pelanggan
yang protes karena kaca helmetnya
tertukar.Padahal dulu ketika pertama kali memulai
bisnis ini, Amui sempat diejek teman-temannya.
Begini ia menirukan perkataan kawannya itu; “Apa
usaha macam ini. Memangnya ada orang yang
mau datang. Kan dia bisa cuci sendiri.” Kini ia
puas karena tidak menghiraukan olok-olokan
mereka.Ditanya mengenai kunci kesuksesan
usahanya, Amui malah menutup-nutupi. Ia
hanya membeberkan tips standar yang mungkin
sudah banyak diketahui orang. “Coba lihat, semua
bersih. Busanya pun makin tebal. Itu rahasia
(tekniknya), tak boleh dikasih tau,” seloroh Amui.

Advertisements

Entry filed under: News, TIPS.

RS Tolak PasienJamkesko Tiga Hari Jalur Trans Kalimantan Ditutup, Festival CGM

1 Comment Add your own

  • 1. kenny  |  February 9, 2011 at 18:48

    wah, mantap gan… titip link gan..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d bloggers like this: